
"Kegiatan kita ini luar biasa. Ada beasiswa S1, S2,dan Insya Allah nanti ada S3, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain. Semuanya itu tujuannya adalah bagaimana guru bisa membuat anak didiknya taat beragama, gemar beribadah, dan melakukan yang terbaik. Kalau dalam bahasa UU-nya, adalah menciptakan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab," kata Nifasri (19/05).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 19 s/d 21 Mei 2016 diikuti oleh 50 guru PAI padaSMP dari 10 Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bengkulu. Dengan mengikuti kegiatan ini, Nifasri berharap, guru PAI nantinya mampu mengembangkan bahan ajar, mampu menulis karya tulis ilmiah/PTK, mampu mengembangkan model-model pembelajaran yang menarik, dan mampu membuat media pembelajaran berbasis ICT.
"Guru agama, dalam hal ini harus mampu mengembangkan dirinya, baik kualifikasi maupun kompetensi. Sehingga dalam melaksanakan pembelajaran menjadi lebih PD dan profesional. Jika tidak, akan tereliminasi oleh sumberdaya lain yang lebih tinggi kualifikasi dan memadai kompetensinya. Terlebih lagi sekarang ini, di era MEA, di mana tenaga pendidik nanti tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi seluruh negara-negara Asean ikut bersaing dan berkompetisi dalam mewarnai dunia pendidikan," tegasnya.
Pada kesempatan terakhir, Nifasri berharap, ke depan, PAI bisa dijadikan intrumen transformasi nilai-nilai luhur, sehingga mampu membentuk karakter peserta didik yang baik.
0 Komentar untuk "PAI Instrumen Transformasi Nilai-Nilai Luhur"